Uncategorized

Semerbak Harum Cinta

simbah

Selasa pagi di bulan Desember menjadi pagi yang abu-abu. Tidak bisa mengungkapkan bagaimana rasa yang bergejolak di dalam hati.

Seseorang yang kami tahu sebagai sosok suami terbaik untuk simbah putri kami, sosok ayah terbaik untuk orangtua kami, sosok simbah kakung terbaik untuk kami cucu beliau, Alhamdulillah juga menjadi sosok tokoh pejuang NU teladan di daerah kami, juga sosok Kiai bagi warga sekitar kata tetangga dekat kami.

Beliau seorang yang tidak pernah mudah marah, tidak pula membicarakan orang, sabar, sangat dermawan, selalu sholat di awal waktu, duduk di depan dalam pengajian dan pemimpin yang bijak dalam berbagai hal, juga seorang suami yang setia menjaga cintanya hingga menyusul simbah putri kami tercinta.

Beliau seorang lulusan sarjana IAIN Sunan Kalijaga, aktifis NU yang dahulu kala ketika tidak ada tempat sebagai kantor menjadikan rumah beliau sebagai kantor PCNU sementara, salah satu pendiri dan kepala sekolah PGA (Pendidikan Guru Agama) yang kemudian menjadi SMP Ma’arif 1 Klangon, salah satu pencetus dibuatnya jembatan Kali Sili, imam Mushola Klangon dimana ketika beliau tindak dan belum ijin memasrahkan  tanggung jawab mushola kepada Pak Zamroni -tetangga dekat kami- meskipun sedang bepergian sekalipun menengok cucunya beliau akan segera pulang untuk meng-imam-i mushola.

Beliau sehari-harinya adalah pergi mengajar, selepas pensiun beliau lebih sering ke ladang atau alas, mengurus kambing, ayam, kelinci, kucing, dan ternak yang lain. Menengok anak dan cucunya, ketika malam-malam tertentu mendatangi pengajian rutin, selepas magrib beliau menunggu isya’ sembari menelaah kitab tertentu, menderes Al Quran, rutin berpuasa sunnah senin-kamis, selalu bangun tepat waktu tanpa pernah meninggalkan peng-imam-an shubuh, bermain-menemani-mendidik cucu beliau.

Beliau bagi kami keluarga khususnya saya pribadi adalah seorang simbah kakung yang sangat baik, baik sekali, begitu baik yang Allah anugerahkan kepada keluarga kami. Ketika beliau masih sehat ketika saya tidur-tiduran di amben kemudian beliau memijat saya sambil tersenyum kemudian mengambilkan selimut baik ketika saya masih kecil hingga besar saat ini.

Antara simbah putri dan simbah kakung ada pesan yang begitu melekat dalam hati saya. Ketika itu saya sedang menemani simbah putri opname di rumah sakit. Kamar kami sangat dekat dengan mushola milik rumah sakit. Ketika adzan simbah kakung langsung terbangun dari istirahat siang beliau dan beranjak menuju mushola. Kemudian simbah putri melihat saya dan berkata,”Sholat ojo di ulur-ulur, nek wis adzan ndang gek sholat ngetutke mbah kakung kae”

Saya juga senang mengintip mbah Kakung di ruang tamu selepas jamaah magrib. Beliau memakai kaca mata khas beliau kemudian menderes Al Quran setelah itu membaca kitab-kitab kuno beliau.

Simbah kakung selalu menjadi imam sholat di mushola tempat simbah tinggal dan simbah putri selalu berada di shaf putri pertama di dekat beliau (tempat ma’mum dibagi menjadi kanan-kiri antara laki-laki dan perempuan). Bahkan setelah simbah putri mboten wonten ibu-ibu diawalnya tidak ada yang menempati tempat sholat simbah putri setelah kemudian waktu terlampau agak lama. Simbah putri selalu berdzikir panjang setelah sholat dan simbah kakung membersamai beliau ketika akan kembali ke rumah. Simbah kakung semasa hidupnya terus mengendarai kendaraan umum dan tidak lelah pergi kesana kemari menjenguk anak cucu di Jogja, Samigaluh, atau silaturahim kemanapun.

Dan spesial pertama untuk Mak Itam, beliau adalah tetangga kami yang selalu ikut jamaah di mushola, tidak malu bertanya perihal agama khususnya sholat, terima kasih atas doa beliau sampai mengiringi simbah kakung, saat itu saya tidak bisa membendung air mata dalam diam saat simbah kakung mulai dimasukkan kedalam pesarean tapi ngendikanan Mak Itam menguatkan saya menyeka air mata, “Pak kaji Isron kuburane jembar koyo atine jembar tenan, uripe yo luman…luman banget”.

Dan spesial yang kedua kepada Pak Zamroni yang banyak membantu simbah kakung dan keluarga kami dalam hal apapun. Dalam sambutan beliau menyebut simbah kakung sebagai sosok seorang Kiai. Sesungguhnya begitu pula bagi saya pribadi yang senang menanyakan perihal agama kepada simbah putri dan kakung dan apapun sikap beliau berdua kepada keluarga maupun orang lain. Ummi juga selalu menyebut simbah kakung adalah Kiai, jika dilihat dalam silsilah keluarga simbah putri-lah putri seorang Kiai kampung. Namun disini bukanlah gelar Kiai menjadi hal yang penting tetapi contoh akhlak, sikap kepribadian, dan tauladan-tauladan simbah putri dan simbah kakung yang perlu menjadi pelajaran besar dan contoh bagi kami sekeluarga.

Kami segenap keluarga besar Bani Isron mengucapkan terima kasih atas limpahan doa dan silaturahim tamu sekalian, poro Kiai, Gus, anggota banser, pejabat, rekan sejawat, saudara dari luar Jogja, teman-teman saya, teman-teman keluarga kami, tetangga rumah keluarga anak-cucu di Bantul Jogja, tetangga di daerah anak-cucu keluarga kami masing-masing, teman-teman santri, dan khususnya tetangga simbah kami atas segala bantuan persiapan acara hingga puncak pengajian, keluarga adik simbah kakung di Tanjung yang selalu datang untuk membantu. Semoga kami sekeluarga dapat mencontoh simbah kakung dan simbah putri juga diberikan kekuatan oleh Allah untuk meneruskan perjuangan beliau, menjadi anak dan cucu keturunan yang shalih shalihah.

Simbah Putri (November 2014)-Simbah Kakung (Desember 2016) semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah fiddunya wal akhirat…aamiin

Iklan
Uncategorized

Koran Mini

Koran Mini Kerudung,

Koran karya santri gadungan

Pernahkah anda hidup dalam sebuah batasan?

Hidup tanpa akses internet, telepon seluler, laptop, tablet, atau benda elektronik lainnya?

Tidak bisa bebas pergi kemanapun sendirian?

Sedangkan diluar sana begitu cepat informasi dan zaman yang terus mengalami perubahan bahkan setiap sepersekian detiknya. Kehidupan yang telah menuntut untuk mengikuti perputaran zaman namun anda berada pada sebuah lingkungan memberi batasan.

Kebutuhan dan keinginan menjadi salah satu sumbu utama atau sebuah dasar munculnya desain. Kebutuhan memaksa manusia untuk mencari solusi atas munculnya sebuah permasalahan. Memecahkannya menggunakan analisis sehingga menghasilkan sebuah solusi yang kemudian diwujudkan melalui desain. Ada asap, pasti ada apinya.

Sungguh tidak pernah terpikirkan untuk mengenyam pendidikan di sebuah tempat dengan begitu banyak aturan dan banyak hal yang dilarang. Remaja pada umumnya ingin mencari kebebasan dan eksistensi di sebuah sekolah kenamaan. Namun hidup saya tidak mengantarkan pada hal tersebut.

Halo pesantren,

Juli 2006. Sore itu keluarga saya berkumpul bersiap mengantarkan saya kepada sebuah tempat belajar bernama pondok pesantren Sunan Pandanaran di daerah Kabupaten Sleman. Sampai disana, Ibu saya berpesan bahwa beliau tidak akan menengok saya sebelum genap 40 hari disana.

‘Apa? Jadi aku ditinggal sendiri?’

Hari-hari dilalui mengalir begitu saja mengikuti peraturan yang ada. Belum ada perasaan terkekang atau sedih karena kangen selama disana. Hingga suatu hari sebuah paket berada di atas ranjang tidur saya bersama dengan sebuah surat dari Ibu. Rupanya Ayah menyelinap mengantarnya melalui mbak pengurus pondok tanpa ingin bertemu denganku karena –problem 40 hari-. Ingin menghubungi via telpon tapi antriannya sudah membuat malas. Sejak saat itu, sesekali saya menjadi sesenggukan di malam hari…

5 menit yang berharga,

Kami bersekolah sama seperti biasa teman-teman di luar pesantren. Kami ada juga pelajaran komputer TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Tahukah anda apa yang membedakan kami dengan teman di luar pesantren?

“Aku online pertama!” teriak salah seorang murid karena hanya ada sedikitnya 3 komputer diantara sekian komputer yang ada.

“Aku kedua!” teriak yang lain kemudian disambut sahutan selanjutnya hingga membuat sebuah antrian panjang, termasuk saya di dalamnya.

Jika di warnet anda dapat sepuasnya berjam-jam maka bagi kami sudah menjadi waktu yang berharga untuk mampu mengintip beranda, membuat status hingga -prestasai tertinggi- dapat berganti foto profil pada facebook  selama maksimal 5 menit saja namun termasuk ketika akses internet berjalan lambat.

“Cepetan gantian udah lima menit lhoo…” teriak siswi lain yang sudah tak sabar online facebook.

Mata pelajaran TIK yang kemudian di isi dengan belajar dan sebagian waktunya didonasikan untuk memberi sedikit “kebebasan” bagi siswa pesantren. Kesempatan membuka internet yang hanya dimanfaatkan untuk membuka media sosial. Padahal di luar sana, seribu peristiwa penting terjadi dan melimpah ruah ilmu pengetahuan perlu untuk diketahui.

Selalu ada yang dikorbankan,

Pondok pesantren mengijinkan santri yang berasal dari Jogja atau memiliki saudara di Jogja untuk pulang sebulan sekali.

Suatu hari saya melihat setumpuk buku ensiklopedi di rumah ketika ijin pulang.  Ingin sekali membawanya ke pesantren dan berbagi ilmu kepada yang lain. Tapi betapa beratnya buku tersebut.

Selama di pesantren, ayah memberi jatah uang saku Rp 200.000 untuk sebulan. Kemudian saya berinisiatif menyisihkannya sedikit untuk mewujudkan sebuah ide saya. Koran Mini ‘Kerudung’, berisi sekilas info pengetahuan, karya puisi, cerpen, games, dan sebagainya sebagai media berkarya bagi teman-teman dan sebuah keinginan saya berbagi ilmu dari sedikit buku ensiklopedi yang saya miliki.

Tanpa sepengetahuan orangtua saya menyisihkan sebagian uang untuk proyek kecil tersebut. Beliau hanya selalu berpesan “jadilah seseorang yang berbeda dari orang lain dan serius belajar juga mengaji, menjadi berbeda adalah ketika orang lain ‘ingin hidup enak berpikirlah hidup yang nyaman’, ketika orang lain serentak berkata A maka berpikirlah yang lain tapi sing nggenah. Umpamane pada belajar tingkatan 1 maka belajarlah tingkatan 2”

KORMIN Kerudung 1,

Orangtua menjadi kompas bagi anak-anaknya. Melihat potensi dalam diri anak kemudian berusaha mengarahkannya agar dapat berkembang. Orangtua menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Begitu pula yang dilakukan oleh ibu saya, ketika liburan kelulusan SD beliau mengajak saya dalam sebuah workshop komik. Disana saya adalah peserta termuda saat itu. Ketika ada games Ibu saya semangat sekali mengikutinya dan mendorong saya untuk ikut membuat.

Ketika sharing ada salah seorang peserta usia SMA membuat sebuah koran dengan ukuran selembar kertas HVS dan dia bercerita bahwa dia membuatnya sendiri dan menyebarkannya di sekolah. Saya kagum, awalnya saya tidak memperhatikan workshop tersebut kemudian menjadi tertarik dan merasa terinspirasi.

Hingga akhirnya September 2006 saya membuat “BUGAN LITTLE BEE”. Bugan yakni singkatan dari Buletin Gadungan yang rencananya terbit dua minggu sekali. Memang memiliki banyak peminat namun kemudian saya memiliki keganjilan dengan namanya yang ‘gadungan’ membuat saya ragu-ragu untuk menerbitkan kembali. Nama kan adalah sebuah doa. Hehe.

Buletin ini akhirnya sempat vakum beberapa minggu. Beberapa teman kerap kali menanyakan kapan akan diterbitkan lagi.

November 2006, saya kemudian mewujudkan Kormin Kerudung. Bermodalkan dua lembar kertas, artikel potongan majalah, dan pena drawing pen saya buat Kormin Kerudung Edisi 1. Untuk edisi pertama saya buat 60 copy, saya hargai Rp 300,- setiap koran. Di luar dugaan saya, ternyata teman-teman senang dengan kormin saya, saking senangnya saya meng-copy kembali beberapa lembar di luar target saya. Hal ini terus berlanjut beberapa kali meskipun tidak pasti terbit satu minggu sekali atau dua minggu sekali.

Satu pencapaian dan perasaan sangat senang dapat berbagi ilmu adalah satu hal yag menjadi tujuan dan fokus saya. Tidak berpikir untung atau rugi karena masih mengambil bagian dari uang saku bulanan. Nama yang baru membuat saya terasa lebih enteng dan ikhlas dalam membuatnya. Sayapun juga menjadi menambah silaturahim dengan [1]kang-kang fotocopy.

Ketika telah menginjak kelas dua Tsanawiyah hal ini kemudian terdengar hingga kepala sekolah Madrasah Tsanawiyah. Beliau merasa bangga dan terinspirasi, kemudian meminta kelas internasional satu tsanawiyah untuk membuat majalah serupa dengan bahasa bilingual.

Karena koran ini Alhamdulillah saya mendapatkan predikat siswa teladan pada satu bulanan.

 

 zzz
 

Koran Mini “KORMIN Kerudung Edisi 1, November 2006

 

[1] Kang=Mas, sebutan untuk laki-laki yang lebih tua di pondok pesantren.

aku dan Allah, syair cinta

Aku Memilihmu (Al Qur’an)

Aku Memilihmu Al Quran

Karna hidup adalah takdir, maka Tuhan memberimu kelonggaran memilih jalan hidup, cara hidup, dan susunan dongeng yang kau inginkan.Setiap orang punya kesibukannya masing-masing, begitu pula saya dan seperti yang dikutip dari status facebook teman saya, Karimah Iffia Rahman ;

“Mungkin di sekeliling kami masih banyak yang belum dapat memahami pola hidup kami berdua, seperti terheran-heran pada akhirnya kami berbeda fokus, perlahan-lahan mencoba merelakan sepersekian kehidupan mahasiswa (yang sebenarnya penting namun bukan yang utama) yang membuat sebagian dari kalian mencibir ketika kami tidak bisa (lagi) bergabung secara bebas, tidak apa. Bismillah, kalau niatnya baik insyaAllah dimudahkan dan diridhoi oleh Allah SWT”

Kami sama-sama memiliki kesenangan yang sama yaitu aktif dalam organisasi, komunitas dan beberapa kegiatan lainnya di luar perkuliahan. Kemudian separuh dari kehidupan kami harus kami relakan untuk satu hal yang bagi kami spesial. Seperti merelakan sesuatu untuk memberikan waktumu pada kekasih atau seseorang yang kamu cintai demi mendapatkan quality time bersamanya. Antara berat melepaskan dan rela karena cinta.

Beberapa orang pun bertanya mengapa pesantren menjadi pilihan saya saat ini padahal sudah menginjak semester akhir dalam perkuliahan, sudah berusia kepala dua, dan sudah bukan anak sekolahan yang -katanya- saatnya bebas menjalani hidup. Inilah pilihan saya kawan…

Begitulah hidup, harus ada hal-hal yang dikorbankan untuk mendapatkan apa yang di inginkan, terlepas dari berapa lama waktu yang harus dikorbankan, percayalah bahwa cinta itu memenuhi hati sehingga mewarnai hari…

syair cinta

Kepada Para Wanita

Perhiasan dunia,

mutiara keluarga, keanggunan dan cantik luar dalam yang Tuhan berikan padamu syukurilah wahai para wanita
parasmu adalah satu kesyukuran yang Tuhan berikan dan menjadi satu hal yang kamu miliki berbeda dari manusia yang lainnya. Percantiklah dirimu dengan sikap dan perilaku yang apik dan nyaman dipandang mata…

Hai, melankolis dulu yak

Tadi pagi sempat menulis sebuah status di Line sebelum akhirnya kehilangan sinyal karna mengabur ke Kulon Progo.

Kepada para wanita yang sedang dilanda jatuh cinta diam-diam, ketahuilah bahwa jalanmu masih begitu panjang sepanjang pagi hingga malam

Kepada para wanita yang sedang patah hati, ketahuilah bahwa masih ada hari baru dan tempat baru untuk didatangi

Kepada para wanita yang dibuat galau hatinya, ketahuilah bahwa waktumu begitu sayang untuk dibuat kacau seharian olehnya

Bila kamu berfikir saat kekacauan datang merupakan akhir dari hidupmu, itu salah karna kamu baru mengenalnya sedang jika kamu berjalan terus  kedepan mungkin kamu akan menemukan seseorang yang jauh lebih baik dari orang-orang baru yang kamu kenal nanti…

Tulisan ini berdasarkan riset pada diri sendiri dan teman-teman yang terbiasa curhat denganku. Sulit memang jika permasalahan wanita sudah menyangkut dengan hati. Apalagi buat para SUMO~ susah move on. Satu hal yang perlu kamu inget dari pengalaman kamu sendiri yang aku yakin banget kalian pasti pernah mengalaminya.

Dulu waktu kecil entah masih SD atau TK kamu pernah mengalami cinta monyet kan? pada akhirnya ketika kamu memasuki jenjang sekolah selanjutnya beberapa orang akan menemui cinta yang baru kan? Hei girls, anggaplah bahwa yang kemarin adalah jeda untuk jalan panjang yang harus kamu tempuh dan masih ada seribu orang baru di masa depan yang akan kamu kenal nantinya dan bisa jadi mereka adalah salah satu dari pangeranmu! Let’s move on girls! 🙂

Uncategorized

Membuka pikiran

Luasnya lautan ibarat ilmu pengetahuan yang sangat banyak dan tidak terhitung berapa jumlahnya. Banyaknya itu memberikan perbedaan-perbedaan tertentu dan beberapa persamaan. Diantara perbedaan dan persamaan itu banyak hal yang perlu untuk kita ketahui agar tidak mudah bagi kita memberikan kesimpulan atau ketetapan-ketetapan tertentu. Membuka pikiran berarti membuat otak menjadi memiliki pengetahuan yang luas, mengarahkan sikap untuk saling bertoleransi dan hidup berdampingan dalam pluralisme. Menumbuhkan kedamaian dan membangun kesejajaran…

Uncategorized

Kisah (Nama) Muhammad di Amerika Serikat

ayo travelling!!! (sendirian)

backpackstory

Nama saya adalah Muhammad Arif Rahman, dan saya bukan seorang teroris. Kata orang, nama adalah doa, dan itulah doa  Papa ketika menamai saya delapan belas tahun (lebih) silam. Doanya adalah menjadi seorang anak yang dapat berperilaku seperti sang rasul, yang memiliki sifat bijaksana, dan penuh kasih sayang. Bukan seorang anak yang akan dipersulit nasibnya ketika hendak memasuki Amerika Serikat.


Mr. Muhammad Arif Rahman?” Seru si petugas sebelum saya memasuki ruang tunggu keberangkatan Dubai International Airport, saya mengangguk. “From Indonesia?

Yes.” Jawab saya tegas, seperti orang tua si wanita pada video klip band Kanada MAGIC! yang berjudul ‘Rude’. Saya memberikan boarding pass beserta paspor yang telah ditempeli Visa Amerika padanya.

Tangannya menunjuk ke sebuah sudut ruangan, tempat beberapa alat pemindai berada. “That way, Sir.” Sementara para penumpang lain, yang entah bagaimana proses seleksinya, hanya diminta menunjukkan tanda pengenal dan boarding pass sebelum memasuki…

Lihat pos aslinya 1.612 kata lagi

ujian

Sesungguhnya Allah menyayangimu…

Bukan main lelahnya tubuh ini…mungkin karna terkena hujan seharian dan tiada henti, pula menyetir motor dengan jarak yang cukup jauh dan medan yang cukup ekstrem.

Kali ini sistim imun dalam tubuhku menurun, semua sakit yang kuderita kembali bangun dari tidur panjangnya. Komplikasi; asam lambung, infeksi telinga membuat kepalaku senat-senut tiada henti berdengung memberikan efek aku sulit tertawa dan berbicara dengan keras, demam, mual, dan kutu air di sela jari kaki karna kehujanan.

Ujian diatas Ujian.

Akhir bulan desember adalah detik-detik dimana mahasiswa kampusku harus segera menyelesaikan segala tugas kampus agar dapat lulus di semester ini. Dengan kekuatan yang tersisa aku berusaha mengetik kata demi kata untuk berbagai macam tugas makalah. Sesekali berhenti karna denyut di kepalaku tak tertahankan.

Sore ini aku pergi ke perpustakaan kota berniat agar dapat fokus mengerjakan tugas makalah ini. Sakitnya memuncak sore ini, rasanya aku ingin pingsan disana. Tak tahan, sedikit saja terkena angin mual sekali rasanya. Aku bingung bagaimana aku bisa pulang…

Allah Maha Adil, menguji hambanya sesuai dengan kapasitasnya. Semoga ini bermanfaat dan aku dapat kuat!

*ditulis dengan sempoyongan di perpus kota*